Inspirasi membuat blog ini datang saat seorang dosen mata kuliah Bahasa Indonesia menembakkan motivasi-motivasinya pada jiwa saya. Saat itu mata saya seolah terbelalak dari tidur panjang saya. Saya merasa menjadi mahasiswi yang paling semangat mendengarkan motivasinya diantara mahasiswa mahasiswi lain di kelas.
Sang dosen terus mendorong para muridnya untuk menyenangi aktivitas membaca, mencintai buku, buku apa saja.
"Seseorang yang benar-benar senang melahap buku, jangan harap ia akan kenyang dengan pengetahuan. Yang ada, justru rasa haus yang terus bertambah." begitu kata beliau. "Rasa haus itu seolah menjadi bensin bagi mesin berfikirnya untuk menambah semangatnya dalam membaca" lanjutnya, maka makin bertambahlah antusias saya kala itu. Rasanya ingin seketika itu juga saya berlari menjangkau perpustakaan dan melahap semua buku yang ada di sana.
Entahlah, dada saya terasa begitu menggebu. Ada rasa ingin yang sangat untuk merubah diri saya yang kurang pengetahuan, malas, jarang membaca, sulit berfikir dan kejelekan saya yang lainnya.
Semangat Baruuuu!!!
Minggu, 26 September 2010
Sedikit Tentang ku
Saya adalah seorang mahasiswi semester I yang masih ragu dengan kesiapan diri saya sendiri untuk menyandang status mahasiswi. Ketidakpercayadirian, keraguan, kebingungan selalu menghantui saya tiap kali kaki ini memasuki gerbang kampus. Terlebih saat menatap kawan-kawan baru saya yang teratur perjalanan akademiknya. Tak seperti saya yang 'singgah' dahulu ke kiri dan ke kanan. Awal saya mengecap pendidikan formal adalah di Taman Kanak-kanak. Lepas itu saya lanjutkan ke Sekolah Dasar di desa saya. Setelah selesai belajar di kelas enam, orang tua menyarankan saya melanjutkan ke Madrasah Tsanawiah. Memang hampir seluruh anggota keluarga saya lulusan MTs. Sayapun mengerti, bekal agama itu amat penting dalam kehidupan. Namun jiwa saya yang sebelumnya adem ayem saja, mulai berontak menjelang saya lulus MTs. Ayah saya menyuruh saya masuk Aliyah, namun saya menolak. Saya merasa bosan dengan pelajaran-pelajaran agama. Saya ingin melanjutkan ke sekolah umum. Bahkan saya memilih SMA di tengah kota yang letaknya amat strategis bagi ABG-ABG seperti saya saat itu. SMA tersebut dikelilingi taman kota, GOR, dan pusat belanja.
Sayangnya, NEM saya tak dapat memenuhi standar yang ditetapkan SMA tersebut. Akhirnya, dengan tanpa fikir panjang jauh ke depan, saya mengikuti teman saya mendaftarkan diri ke SMK Bisnis dan Manajemen. Saya memilih jurusan Administrasi Perkantoran (dulunya sekretaris). Selama menuntut ilmu disana, saya tak pernah merasakan bahwa ini adalah sekolah saya. Saya selalu merasa bahwa ini sekolah mereka, ini sekolah orang lain. Saya merasa kering, pelajaran-pelajaran saya rasa bukan untuk saya. Dan saya simpulkan, saya tak cocok sekolah disana. Akhirnya lulus dari sana, saya nekat melanjutkan ke IAIN, dan mengambil jurusan bahasa inggris. Tiba-tiba ibu saya menyarankan saya mengambil jurusan PAI. Awalnya saya tolak, namun entah kenapa akhirnya saya menuruti beliau. Dan kini dimulailah status mahasiswi itu, mahasiswi PAI IAIN syekh nurjati cirebon, lulusan SMK jurusan Administrasi Perkantoran.
Sayangnya, NEM saya tak dapat memenuhi standar yang ditetapkan SMA tersebut. Akhirnya, dengan tanpa fikir panjang jauh ke depan, saya mengikuti teman saya mendaftarkan diri ke SMK Bisnis dan Manajemen. Saya memilih jurusan Administrasi Perkantoran (dulunya sekretaris). Selama menuntut ilmu disana, saya tak pernah merasakan bahwa ini adalah sekolah saya. Saya selalu merasa bahwa ini sekolah mereka, ini sekolah orang lain. Saya merasa kering, pelajaran-pelajaran saya rasa bukan untuk saya. Dan saya simpulkan, saya tak cocok sekolah disana. Akhirnya lulus dari sana, saya nekat melanjutkan ke IAIN, dan mengambil jurusan bahasa inggris. Tiba-tiba ibu saya menyarankan saya mengambil jurusan PAI. Awalnya saya tolak, namun entah kenapa akhirnya saya menuruti beliau. Dan kini dimulailah status mahasiswi itu, mahasiswi PAI IAIN syekh nurjati cirebon, lulusan SMK jurusan Administrasi Perkantoran.
Langganan:
Postingan (Atom)